Follow by Email

Powered by Blogger.

Thursday, November 7, 2013

Untitled


Apa yang aku tidak sukai dari dirinya? Tak ada atau hampir taka da yang aku benci dari seluruh kelakuannya, sifatnya, dan bahkan sifat buruknya sekalipun. Aku sudah dimabuk cinta, cinta yang tak bisa ditawar kembali. Aku sudah fix, tak akan berpindah ke-lain hati. Itu pemikiranku saat mendekatinya.

Tapi semua itu tidak semulus dari harapanku. Seperti hal yang sia-sia saja. Tapi dalam hati aku berkata, aku tak akan melepasnya begitu saja, karena dialah salah satu mengapa aku begitu tertarik untuk memilikinya. Memang terlalu berlebihan jika dikatakan memiliki, namun beginilah anak jaman sekarang. Sudah banyak para siswa yang mengatur-ngatur “pacar” nya sendiri. Semacam membuat aturan sekolah begitu lah. Ini tidak boleh, itu juga jangan. Namun, sebenarnya aku tak ingin seperti itu, karena memang aku ingin memberi kebebasan kepadanya. Dan aku juga tak ingin ia mengetahuinya.

Namun semua harapan itu hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk, dan sangat sulit atau bahkan tak mungkin lagi dikembalikan seperti semua. Seperti daun yang robek oleh tabrakan mobil. Sudah robek, tertabrak pula. Begitulah sakitnya.

Apa memang ia tak punya perasaan sama sekali kepadaku? Entahlah. Tapi yang jelas semua itu telah terjadi beberapa waktu lalu. Aku sungguh tegang saat berbicara mengungkapkan tujuanku yang kebanyakan orang bilang “mulia”. Apa mulianya? Mungkin mereka salah presepsi. Mulia itu baik. Nah sedangkan “pacaran” ini juga ada baiknya. Seperti contoh, hubugan kita jadi lebih dekat. Mungkin bisa Tanya tentang tugas sekolah, atau sharing ilmu lintas jurusan, dan lain sebagainya. Aku yakin siswa-siswi  disini baik semuanya. Namun bagiku, hanya dia yang aku rasa cocok denganku.

Dia siswi yang sabar, kalem. Aku sudah tak kuat lagi, sehingga terburu-burulah aku (mungkin seperti itu). Aku memang orang yang tak suka berlama-lama masalah pdkt, karena menurutku pdkt itu apa sih fungsinya? Hanya untuk dekat? Lalu apa gunanya pdkt? Supaya kita lebih bisa diterima? Supaya kita mudah dalam mengungkapkan keinginan kita kehadapan lawan jenis? Bagiku tidak. Itu tak penting. Tapi dibalik pdkt yang singkat itu aku punya suatu statement. Walaupun masa pdkt singkat, tapi aku yakin dan berjanji bisa menjaga suatu hubungan itu untuk tetap awet. Itu prinsipku, dalam hal pacaran seperti ini.

Namun nasi telah menjadi bubur. Aku tak bisa melawan fakta. Jangankan melawan fakta, melawan opini pun aku belum tentu bisa menang. Ia bergeming, dan hanya permintaan maafnya yang bisa aku terima. Apakah aku kecewa? Mungkin. Karena ini terjadi begitu singkatnya, dan bahkan ia tak melihatku sekalipun. Aku rasa ia tak benci, ia hanya shock karena betapa singkatnya masa tersebut.

Mungkin bukan saatnya, dan diwaktu lain siapa tahu ia akan kembali kepadaku. Siapa tahu? Karena antara cinta dan “belum cinta” terdapat tembok yang sangat tebal, yaitu “hambar”. Tembok inilah yang harus aku jebol, harus aku hancurkan, harus aku pukul sedikit-dikit dengan sesuatu hal yang membuatnya senang. Jika ia tak peduli dengan apa yang aku lakukan, aku akan bersikap sebaliknya. Jika ia menjauh dariku, aku tak akan menjauh. Aku masih mengharapkanmu. Menunggu pun tak masalah bagiku, asal pada akhirnya aku bisa bersamanya selamanya. (*)

0 comments:

Post a Comment

Sampaikan pendapat, pertanyaan, atau kritik anda!