Follow by Email

Powered by Blogger.

Friday, November 1, 2013

Sebuah Penghormatan





RESPECT.


Itulah yang dibutuhkan. Sikap menghargai dari seorang pria untuk seorang perempuan. Suatu keputusan yang harus ku ambil saat ini. Tidak ada pilihan atau opsi lain untuk dijalani, selain menghormati keputusan tersebut. Perempuan harus dihormati? Rasanya iya. Kita terlahir didunia ini pun juga atas andil seorang perempuan, jadi tak ada alasan sebenarnya untuk tidak menghormati seorang perempuan. Dan mungkin juga memang kesalahanku, yang tak berpengalaman dalam hal berpacaran dimasa kini. Dan aku mungkin terlihat lemah dihadapan teman-teman, yang lebih mengerti. Dan lebih parahnya lagi, aku punya sifat mudah menyerah, yang jelas punya kontribusi dalam memperburuk keadaan ini.

Hari itu terasa fresh sekali, sesekali aku berkunjung ke meja teman-teman untuk melihat apa yang mereka kerjakan. Ya namanya juga anak muda, explosive dan tidak suka pasif, selalu saja ada aktifitas yang berjalan meskipun dalam keadaan yang seharusnya tenang.

Hingga sampailah aku kepada bangku seorang perempuan, teman baruku yang baru masuk bersamaan dengan tahun ajaran baru ini. Jaga image, itulah yang biasanya anak muda lakukan bila bertemu dengan teman baru, walaupun semakin lama akan semakin terbuka juga bagaimana kita yang sebenarnya. Namun setidaknya itulah yang respon yang aku berikan untuk dirinya. Aku berusaha menjaga image-ku agar dirinya tidak ilfeel terhadap kehadiranku sebagai teman barunya.

Dimulai dari situs jejaring sosial twitter, mulai kucoba berbagai cara agar bisa mengenal lebih dekat. Dan ini tampaknya diluar rencana ku. “eh folback ya”, begitu tweetku untuk dirinya saat pertama kali berinteraksi. Beberapa saat kemudian sang pujaan hati itu pun membalasnya, “followed ya”. Senang pun tidak, sedih pun juga tidak. Karena memang aku tak tahu apa-apa, punya rasa pun belum, tapi dari situlah aku mulai sedikit berani berinteraksi yang bisa dibilang terlalu berlebihan karena tab mention di twitter sampai penuh! Ya, mungkin diakun milikku penuh, tapi bisa jadi diakun dirinya justru sebaliknya.

Bahkan, saat pembagain tugas dikelas, dan kebetulan cewek itu tak hadir, aku sangat ngebet untuk merekruitnya sebagai anggotaku. Entah apa yang aku pikirkan saat itu karena pemikiran itu muncul begitu saja tanpa dasar yang jelas. Atau karena naluri sebagai teman diriku yang tinggi? Tapi sepertinya tidak juga.

Suatu hari, tugas biologi datang menghampiri. Pekerjaanku terhenti di satu soal yang aku rasa perlu crosscheck dari teman-teman apakah jawaban ku ini benar atau tidak. Bertanyalah aku kepada salah seorang teman, “jawaban nomer 5 ini benar atau tidak?” tanyaku. “ya, ini silahkan dilihat saja insyaAllah benar”. Kulihat jawaban tersebut, dan ternyata sama. Lega rasanya.

Kemudian aku melihat sosok pujaan hati itu lagi didekatku. Aku nampak grogi namun masih belum berfikir apakah ini suatu sinyal bahwa aku telah jatuh cinta kepadanya. “kamu orang asli mana sih? Kok bahasanya sopan sekali?” tanya-nya. “aaa..a aku orang cepu, tau?” jawabku dengan sedikit gugup namun aku berusaha tetap tenang.

“ihiiii kenapa nih kok tanya-tanya?” sahut teman beramai ramai yang membuatku sedikit tersipu malu oleh pertanyaan itu. Segera kuambil buku milikku dan bergegas pergi untuk melanjutkan tugas tersebut.

Secara licik, teman-teman tersebut meng-hack smartphone sang cewek tersebut. Iya, jaman sekarang sudah menjadi hal yang lumrah terkait masalah pembajakan handphone. Ia menulis personal message yang membuat ruang hatiku sedikit terbuka untuk-nya. Ya walaupun itu hanya tulisan teman-teman, bukan asli dari dirinya, namun setidaknya aku sudah punya peluang untuk mengambilnya menjadi kekasih.

Dari hari ke hari semakin menjadi saja. Dan rasa optimis itu semakin menguat pula. Namun aku tetap saja aku. Selalu gugup saat berinteraksi dengannya. Andai saja aku tidak mudah grogi, pasti akan lebih mudah. Aku memandang grogi ini layaknya momok, karena pemikiranku jika aku grogi, pasti akan pasif. Dan (kebanyakan) cewek tidak suka kepada cowok yang mudah gugup, apalagi ditambah pasif. Apa yang aku harus lakukan? Tetap mencoba mendekati?

Sampailah kepada suatu hari, dimana dihari itu aku meminta nomer handphone nya. Aku tak punya tujuan jelas mengapa meminta nomer tersebut. Ya, mungkin aja suatu saat nanti butuh, pikirku. Mulailah dari situ aku mencoba mengirim sms, dan cewek tersebut meresponnya. Dari hari ke hari, teks sms semakin menjadi-jadi, maksudnya semakin banyak saja gombalan atau bahasa kerennya jaman sekarang ‘sepik’. “sudah makan?” “belum nih, suapin dong” “iya, ayo sini sini”. Pemandangan tersebut sudah menjadi hal lumrah.

Bahkan, pertanyaan seperti ini pun berujung suatu rasa optimis yang sangat kuat. “haha, jomblo sih :p” “bukannya kamu juga jomblo?” “kamu jomblo, aku juga jomblo, kenapa gak bersatu aja? #eh” “hahaha waduh iyaa kali aja bisa bersatu nanti :p”. Percakapan itulah yang membuatku semakin optimis untuk menggaetnya.

Namun mungkin aku terlupa, terlena. Aku tak berfikir bahwa mungkin itu hanyalah candaan biasa. Namun yang aku pikir tidak, aku tetap berbunga-bunga karena percakapan tersebut. Walaupun hanya dari teks sms, itu sudah cukup bagiku.

Dari hari ke hari semakin baik saja hubunganku. Namun, bukan berarti aku tidak pernah menjumpai sebuah goncangan yang sangat hebat. ia tak meresponku selama beberapa hari. Entah mengapa itu bisa terjadi. Ku coba untuk akrab lagi kepadanya, mulai dari sms, hingga keseharian, namun ada yang berbeda dari biasanya.

Dan, pada akhirnya ada seorang teman dekatku yang menceritakan tentang cewek tersebut. Betapa hancurnya perasaanku saat mendengar cerita tersebut. Ya, ia telah mempunyai cowok idaman lain. Tak ada yang bisa aku perbuat kecuali merenung. Mengapa ia tak bicara dari awal saja, kalau pada akhirnya menjadi seperti ini? Bukan masalah sakit hatinya, aku tak peduli dengan itu. Tapi, penyesalanku yang tiada artinya karena semua telah terjadi.

Drop. Beberapa hari itu aku hanya terdiam dikelas, tak seperti biasanya. namun aku coba menutupinya karena itu hal tak penting. Ah, buat apa aku mikir itu. Masih banyak cewek yang lain, nggak hanya orang itu, pikirku. Dan itulah yang banyak dirasakan oleh teman-teman seumuranku. Biasanya mereka memberi nama kejadian seperti ini PHP. Yang tragis lagi, kenapa aku sebagai cowok saja bisa merasakan seperti ini? -___- mungkin jika cewek masih wajar, tapi aku cowok men!

Bantuan dari teman-teman sangat mengucur deras, namun layaknya sederas-derasnya hujan akan tetap kering juga jika semua itu berhenti. Yang hanya bisa kulakukan hanyalah menghormati. Aku bukan tipe pria yang menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu, dan bukan juga cowok yang suka menganggu urusan orang. Kecewa memang iya, tapi seperti kata pepatah, kita harus bangkit. Mungkin ini berlebihan karena banyak teman memberikan saran kepadaku untuk tetap gigih, namun karakterku bukan seperti itu. Aku tak suka menggapai suatu tujuan dimana tujuan tersebut tidak jelas arahnya atau bahkan tidak menuju kebaikan untuk diri kita. Walaupun ia sekarang sudah tidak menjadi pujaan hati lagi, itu tak masalah karena aku bisa tetap melihatnya, berteman dalam keseharian walaupun hanya sebatas teman. Itu sudah cukup bagiku. Aku bisa memikul beban ini, karena memang aku ikhlas. Menghormati itu perlu, karena itu hak seseorang dan kita tak bisa ikut campur didalamnya. Aku tak ingin dipuji, aku tak ingin diledek cowok lemah, karena memang karakter manusia berbeda-beda. Terimakasih teman-teman, yang telah membantuku. Semua itu luar biasa sekali, dan hal itulah yang membuatku lupa akan masalah yang kuhadapi. (*)

0 comments:

Post a Comment

Sampaikan pendapat, pertanyaan, atau kritik anda!